ketika malam sudah tiba
jalan raya terasa begitulebar
karena tak ada kendaraan yang tersebar
hanya tersisa satu atau dua suara mesin yang terdengar
100km/jam motorku berjalan
melepaskan semua emosi yang tersimpan
sedih, marah, kecewa, dan penyesalan
adalah bahan bakar yang selalu tersimpan
makan dalam kata teman
100km/jam mesin motorku mengerang
terasa ringgan seperti melayang
inggin juga rasanya kubuat nyawaku melayang
lari dari beban hidup yang kupegang
100km/jam motorku berjalan
terkejut mataku melihat kucig berari menyebrang
terhenti aku disebuah persimpanggan
hampir nyawa kami melayang
iya seakan menyuruhku untuk berhenti
karena lampu merah masih belum mati
terlihat sosok disebrang persimpanggan
seorang tunawisma atau gelandangan
yang biasa mencari makan dipersimpanggan
meletakan punggungnya dibawah pohon
beralas kardis dan koran
bersembunyi dibalik sarung dan pohon
supaya tidak terlihat keamanan
tertawa kumelihatnya
mengiggat hal bodoh yang baru aku lakukan
seakan hanya aku seorng yang banyak beban
Faisal Aditya
Sidoarjo, 04 july 2017
Tidak ada komentar:
Posting Komentar