Sabtu, 30 Januari 2021

KOTA MATI

 Kota ini pernah sekali mati

Bising suara mesin diatas aspal tak lagi berbunyi

Tergantikan oleh sirine kuda putih yang terus berbunyi

Kosong sepi mati


Tumpukan bata dan semen yang menjulang tinggi

Berkilau menyinari setiap malam hari

Tergantikan jutan matahari yang bersinar di malam hari

Bersama rembulan yang hadir menemani


Seiring waktu berganti

Kumpulan mayat hidup mulai meningalkan penakamannya

Mengisi jalan dan trotoar yang dulu sering mereka lewati

Sebelum mereka di bunuh dan mati


Dari kayu bakar mereka membuat obor

Menerangi setiap sudut kota

Dengan cahaya yang redup mereka berharap

Para roh penghuni kota akan melihat dan menemukan jalan pulang

Namun sayang 

Obor obor itu mulai redup

Suara tapak kuda putih mulai menguasai jalanan lagi


Dari sudut jalan ini aku ciut sedih takut

Memerhatikan kuda putih yang terus berlari 

Satu jam sekali mereka melewati jalanan ini

Mengendong entah siapa di pungungnya

Namun yang kutahu pasti

Kuda itu membawanya kerumah tabib untuk diobati


Tak beherapa lama 

Seekor merpati membawa sebuah berita

Bahwa sudah satu juta jiwa teterpapar wabah

Haruskan aku dan mayat hidup lain pulang kebawah tanah


Aku rasa ini dampak negatif dari selalu berpikir positif


Faisal aditya 31/01/2021

Selasa, 17 Maret 2020

TUHAN


Kau memiliki banyak nama
Kau memiliki banyak wujud
Kau memiliki banyak pengikut
Kau juga memiliki musuh

Seperti cinta dan rindu
Bersama logika takkan pernah satu
Siapa yg pertama?
Manusia atau kera

Nirvana, surga atau dunia
Jika mereka tak pernah ada
Akankah kita jadi manusia
Atau cuma hewan berkaki dua

Caramu memberi hadiah dan hukuman
Membuat mereka gila
Berkelahi mempertaruhkan nyawa
Lalu apa tujuanmu sebenarnya
Jika itu semua untuk keseimbangan dunia
Bagaimana kau menjelaskan arti kata tamat
Atau kata itu tak pernah ada di ceritamu?

Bagaimana dengan gunung, laut dan langit
Apakah mereka cuma papan permainan saja
Dan kau tertawa memainkan bidak catur di atasnya
Seperti anak kecil yang bermain dengan temannya

Hadiah dan harapan
Apa benar kau tidak membutuhkan kami
Lalu kenapa setiap tahun, bulan, minggu, atau hari
Kami harus melakukan rutinitas yang kau inginkan
Untuk hadiah dan harapan kami?
Bahkan kau mengancam kami jika tidak malakukanya

Apa benar kau ada?
Buktikan jika memang iya
Atau cuma pemikiran positif saja
Yang membawamu ada
Jika memang iya
Maka kau tak pernah ada

Salahkah aku mempertanyakan dirimu
Sesuatu yang belum tentu adanya
Akankah kau beri aku hukuman karena mempertanyakanmu
Seharusnya tidak
Itu hak-ku bertanya
Dan semua harus bertanya
Sebelum jadi percaya

Terimakasih sudah mematahkan harapan beberapa dari kami
Terimakasih sudah membuat kami saling membenci
Terimakasih sudah mengubur mereka yg berbuat baik
Terimakasih sudah memberi makan mereka yg berperilaku buruk
Jika sekedar untuk berbuat baik
Kamu tidak membutuhkanmu
Kami bisa belajar satu sama lain


Faisal aditya
Sidoarjo 17.03.2020

Rabu, 11 Maret 2020

JANCOK DAN ASU

Ibu aku inggin tingal bersamamu
Kenapa kau tingalkan aku bersama mereka
Setiap hari 2 orang tua itu selalu bertengkar
Kenapa mereka memangil satu sama lain
Jancok dan asu

Aku benci mereka berdua
Aku tidak suka disini
teman 1 kelas SDku semua lari

Mereka takut dengan wajah asu tua
Asu tua yang serakah dan gila harta
Matanya lebar seperti ingin lepas dari kepala
Mulutnya selalu menciut seperti ikan cucut
Wajahnya keriput dahinya selalu mengkerut
Suaminya saja sampai mati karena takut

Aku benci  asu tua itu ibu
Tidak ada anak yg mau berteman denganku
Mereka semua takut padanya
Bahkan tetangga pun membencinya
Kenapa kau biarkan aku tingal bersamanya ibu

Aku tidak ingin pulang kerumah
Aku ingin betmain sama teman teman
Para tetangga selalu marah padaku
Jika aku tidak ada dirumah usai pulang sekolah
Karena si asu tua itu selalu mencariku

Asu itu selalu memarahiku
Sehabis aku pulang bermain
Dan dia selalu marah jika aku pangil dia asu
Bukanya dulu suaminya juga memangil nya begitu

Aku bingung ibu
Setiap hari asu itu selalu berteriak ingin mati
Tapi kenapa setiap aku cekik lehernya
Aku tendang perutnya, aku pukul kepalanya,
Aku lempar pusau ke arahnya
Asu itu berteriak minta tolong
Bukanya dia ingin mati ibu

Ahirnya aku lulus sekolah smp
Aku bisa serumah denganmu ibu
JANCOK sama saja
Disini juga ramai setiap hari
BANGSAT


Faisal aditya
11.03.2020

Minggu, 19 Januari 2020

NASI DAN GARAM

Hari Minggu yang cerah
Masih tersisa bau tanah sisa hujan kemarin malam
Seusai menyiram tanaman bunga yg ibu tanam
Aku duduk di pelataran rumah

Kubuat kopi hitam yang kuracik sendiri tanpa gula
Karena harganya mahal, lagipula kopi terasa lebih nikmat tanpa gula
Ku urungkan niat membakar sebatang rokok yang kubeli di pinggir jalan
Karena tak ingin melihat ibu sedih melihat ku membakar uang 2000 dengan tembakau di dalamya
Yang seharusnya bisa buat beli gorengan seharga limaratusan untuk makan siang

Rolling door sudah tergulung di atas
Mesin jahit sudah tertata rapi bersama mesin obras
Gulungan benang siap berputar menusuk kain bersama jarum
Menambal lubang ataupun menyambung 2 potong kain
Sembari menunggu, ibu berbaring di atas bangku panjang di ruang tamu
Ditemani teh hangat tanpa gula kesukaanya
Sembari membaca kitab suci untuk menenangkan hatinya, atau
Jadi bahan pelariaan sesaat dari kehidupan yg memuakan

Tapi kali ini dia hanya berbaring melamun
"Gak keroso umur wes sak mene, anake wes gede gede. Bendino ngumpulno duwet ora ngumpul ngumpul."
Dalam hati aku berteriak
JANCOK
Mata hari mulai menyilaukan mata dan membakar paving di depan rumah

Sebentar lagi lelaki bertubuh besar dan berwajah garang akan datang
Sudah menjadi rutinitas setiap hari di jam yang sama
Managih uang yg ibu pinjam untuk membeli perabotan rumah
Karena uang bapak sudah habis buat biaya sekolah adik
Cicilan motor ku pun tak menyisakan upah yang setiap bulan aku terima

Jika setiap hari sama sama aku harus makan nasi dan garam
Lebih baik aku tidak berikan uangku pada lelaki bertubuh kekar itu setiap hari

Faisal Aditya
19 january 2020

Sabtu, 11 Januari 2020

SEPI


Sepi
Mesin komputer mengetik tanpa henti
Karyawan berjalan kesana kemari
Saling sapa sebuah formalitas
Menunggu jam kerja yang tak kunjung tuntas

Sepi
Meja makan penuh dengan makanan
Sendok dan piring berdetak bergantian
Para pelayan restoran berlalu lalang
Mengantar antrian makanan

Sepi
Manusia lalu lalang berjalan menunduk
Berjalan sembari menubruk nubruk
Menatap layar tanpa henti sampai kikuk
Mata mereka merah hampir membusuk

Sepi
Di meja ruang tamu berjejer air dan kopi
Asbak penuh dengan abu rokok
Ditemani jam dinding yang berdetak begitu keras
Meski menitnya tak beranjak dari angka dua belas

Faisal Aditya
Pasuruan. 12.01.2020

Sabtu, 28 Desember 2019

Hujan dan sampah

Hujan di bulan desember
Pohon pohon bergoyang riang
Mereka menari dibawah guyuran hujan
Setelah sekian lama mereka tidak mandi dengan shower raksaka
Seeprti dirimu yg mandi dengan air hangat setelah hujan hujan seharian

Bukan hanya pohon
Aspal pun berhenti meraung setelah hujan memandikanya
Semua pengendara mulai memelankan mesinya Mereka tak lagi arogan
Sama sepertimu yg berhenti menangis setelah kuberikan mainan yg kau inginkan

Hujan selalu mengodamu untuk bermain di lahan kosong
Bersama teman temanmu sepulang sekolah
Melarangmu pun percuma
Karena kau seperti hujan
Tak akan reda sampai air di atas awah jatuh semua

Malampun sudah datang bertamu di teras rumah
Tak terasa
Karena awan hitam menyelimuti langit sedari pagi
Air sungai pun meluap karena jalanya tersumbat
Tersumbat orang orang biadap yg membuang sampah tidak pada tempatnya
Termasuk diriku
Tapi hujan tak peduli
Karena air dilangit belum jatuh semua ke bumi

Hujan tak kunjung berhenti 
Kawanan kodok pun berteriak teriak di pekarangan rumah
Terdengar seperti memangil namamu untuk segera pulang
Dan kami mulai khawatir menunggumu pulang di teras

9 tahun lalu hujan mememani kelahiranmu
Sekarang hujan pula yg mengantarmu pulang
Bersama tumpukan sampah yg ikut aku buang
Mengapung ke depan pekarangan rumah


Faisal Aditya
Surabaya, 28 Desember 2019

Minggu, 24 November 2019

PERJALANAN

Bermula dari sebuah pertemuan
Seperti petir menyambar pohon di hutan
Tak disengaja atau direncanakan
Mungkin itu kehendak Tuhan
Awalnya biasa seperti pada umunya
Dua pasang manusia yang saling bercanda
Basa-basi mengisi sebuah obrolan
Ejekan teman pun mulai terlontarkan
Katanya aku menyukainya
Memang apa yg sudah aku lakukan

Hari pun berlalu berganti bulan
Kau pergi untuk melanjutkan pendidikan
Entah
Kenapa aku merasa kehilangan
Mungkin aku egois dengan meramikan obrolan kita
Tapi kenapa kau menerimanya dengan lapang dada?
Mungkin itu cuma perasaan ku saja

Entah sejak kapan kita tidak lagi berteman
Tapi sering berjalan berduaan
Ku juga tak tau kenapa kau ingin berjalan bersama ku
Ku juga selalu lupa menanyakan itu padamu
Karena aku merasa tak pantas untukmu
Kau wanita yg pandai
Kau wanita yg penyabar
Kau wanita yg tangguh
Kau wanita yg tegar
Kau wanita yg bisa membaur dengan siapa pun
Kau wanita yg patuh dengan perintah Tuhan
Dan aku
Nama Tuhan pun mulai asing di telingaku

Jika kita berbicara tentang cinta
Kita berbicara tentang memberi
Kita berbicara tentang berbagi
Kita berbicara tentang kasih
Kita berbicara tentang tanggung jawab
Kita berbicara tentang toleran
Kita berbicara tentang manusia
Kita berbicara tentang Tuhan
Lalu
Apa yg sudah aku lakukan padamu?
Bagaimana cara mencintaimu pun aku belum tahu

Beberapa bulan telah berlalu
Sejak kita tidak lagi berjalan bersama
Selama itu pula aku selalu memikirkanmu
Dan berharap kita kembali seperti semula
Tapi masih pantaskah diriku untukmu

Meila Witria

Faisal Aditya
Surabaya, 24 November 2019