Minggu, 19 Januari 2020

NASI DAN GARAM

Hari Minggu yang cerah
Masih tersisa bau tanah sisa hujan kemarin malam
Seusai menyiram tanaman bunga yg ibu tanam
Aku duduk di pelataran rumah

Kubuat kopi hitam yang kuracik sendiri tanpa gula
Karena harganya mahal, lagipula kopi terasa lebih nikmat tanpa gula
Ku urungkan niat membakar sebatang rokok yang kubeli di pinggir jalan
Karena tak ingin melihat ibu sedih melihat ku membakar uang 2000 dengan tembakau di dalamya
Yang seharusnya bisa buat beli gorengan seharga limaratusan untuk makan siang

Rolling door sudah tergulung di atas
Mesin jahit sudah tertata rapi bersama mesin obras
Gulungan benang siap berputar menusuk kain bersama jarum
Menambal lubang ataupun menyambung 2 potong kain
Sembari menunggu, ibu berbaring di atas bangku panjang di ruang tamu
Ditemani teh hangat tanpa gula kesukaanya
Sembari membaca kitab suci untuk menenangkan hatinya, atau
Jadi bahan pelariaan sesaat dari kehidupan yg memuakan

Tapi kali ini dia hanya berbaring melamun
"Gak keroso umur wes sak mene, anake wes gede gede. Bendino ngumpulno duwet ora ngumpul ngumpul."
Dalam hati aku berteriak
JANCOK
Mata hari mulai menyilaukan mata dan membakar paving di depan rumah

Sebentar lagi lelaki bertubuh besar dan berwajah garang akan datang
Sudah menjadi rutinitas setiap hari di jam yang sama
Managih uang yg ibu pinjam untuk membeli perabotan rumah
Karena uang bapak sudah habis buat biaya sekolah adik
Cicilan motor ku pun tak menyisakan upah yang setiap bulan aku terima

Jika setiap hari sama sama aku harus makan nasi dan garam
Lebih baik aku tidak berikan uangku pada lelaki bertubuh kekar itu setiap hari

Faisal Aditya
19 january 2020

Tidak ada komentar:

Posting Komentar