seorang wanita
yang keras, tanguh, dan tegar
tergambar diraut
wajagnya
terlukis dilekuk
tubuhnya
terdengar dari
senandung suaranya
matanya bersinar
seperti embun pagi yang disinari fajar
tatapan matanya
tajam setajam mata pisau
senyumanya manis
semanis madu nirwana
suaranya tegar
mengalahkan halilintar yang mengelegar
baru 2 bulan kita
bertemu
dalam jangka watu
2 minggu
2 kali sudah kau
membuatku berpikir tentangmu
2 kali kutakbisa
menutup mataku karena mikirkanmu
Kau menatapku
seakan ingin bertanya sesuatupadaku
mempertanyakan
siapa? Kapan? Dimana? bagaimana? Atau apa?
Andai aku tahu isi
hatimu
Aku akan
menjawapnya tanpakau perlu bertanya padamu
Kau berbicara
kepadku seperti morse yang brtanya
Apakah kau sama
seperti mereka?
“Aku tak sama
seperti mereka”
jawabku dengan
keraguan apakah itu yang benar kau tanyakan
kau berpaling
seakan mendapat yang tak kau inginkan
akankah ini
menjadi sebuah api dineraka
bahkan membuat
pentipta dunia murka
Telah lama kusegel
dan kupendam buku catatanku
Tapi mantra apakah
yang kau gunnakan saat kedua kali kita bertemu
Sehingga bisa
membuka buku yang tertutup itu
Akankah kau
menulis namamu distu?
Nama depan yang
melambangkan keyakinan
Nama belakang yang
diturunkan seorang ayah
Seorang ayah yang selalu
iya rindukan
Dan kerinduan itu
iya kumpulkan menjadi sebuah do’a yang indah
Christine Sutanto
Faisal Aditya, 4 november 2016
Tidak ada komentar:
Posting Komentar